Idul Fitri

Gerbang Optimisme dan Reformasi diri

Hari Raya Idul Fitri baru saja berlalu. Hingar bingar kemeriahan perayaan akbar umat Islam ini hingga kini pun masi terasa. Gelombang arus mudik lebaran masih terjadi. Kota metropolitan seperti Jakarta kembali bangun setelah sempat terlelap sunyi ketika ditinggal pergi para pemudik ke berbagai penjuru tanah air.

Esensi dari idul fitri itu sendiri adalah orang kembali pada keadaan asalinya, keadaan fitrah atau suci. Orang yang kembali fitri diibaratkan seperti bayi yang  lahir tanpa dosa. Namun, untuk kembali fitri hendaknya diikuti dengan tindakan reformasi diri.

Idul Fitri juga identik dengan bersilaturahmi dan kebersamaan. Di dalam Alquran diajarkan untuk memaafkan. Bukan sekadar maaf tetapi memberi maaf yang sebenar-benarnya, bukan basa-basi. 

Berakhirnya Ramadhan menjadi starting point dalam menciptakan optimisme mengarungi hidup, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama dalam masyarakat. “Dengan kembali menjadi fitri, semoga kita semakin mempererat persatuan dan kesatuan sebagai bangsa, serta semakin berguna untuk membangun negara ini,” ucap Presiden Joko Widodo melalui akun twitternya.

Adalah sebuah kebahagian bagi Habitat for Humanity Indonesia ketika menyaksikan para keluarga mitra dapat merayakan idul fitri di rumah yang lebih kokoh dan layak. Suasana berbeda lebih-lebih dirasakan oleh lebih dari 600 keluarga yang merayakan idul fitri pertama kalinya di rumah baru yang dibangun oleh Habitat for Humanity Indonesia selama tahun 2017.

Senada dengan spirit idul fitri yang menjadi starting point dalam menciptakan optimisme mengarungi hidup, Habitat for Humanity Indonesia juga terus berkarya dan setia pada komitmennya membangun harapan, membangun kehidupan melalui program pembangunan rumah layak huni dan fasilitas komunitas bagi jutaan keluarga prasejahtera.

Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H, mohon maaf lahir dan batin!